- Dari SNT hingga Pendidikan Fleksibel, Kemendikdasmen Perluas Akses Pendidikan Bermutu
- SE Mendikdasmen tentang Penyelenggaraan Layanan Pendidikan di Daerah Terdampak Asap Karhutla
- Kolaborasi Kemendikdasmen dan ANRI dalam Pemanfaatan Arsip sebagai Sumber Pembelajaran
- Siswa Tokyo Belajar dari Dunia Nyata, Kemendikdasmen Kenalkan STEM sebagai Pendekatan Pembelajaran
- Presiden Prabowo Dorong Lompatan Besar Pendidikan Indonesia
- Juara Matematika dan Pemain Sepak Bola Nasional, Bibit Talenta di SNT Bolaang Mongondow
- Sekolah Nasional Terintegrasi, Hidupkan Mimpi Anak Anak di Kupang, NTT
- 14 Tahun Dukung Talenta Muda Indonesia, Kemendikdasmen Apresiasi Beasiswa SCG
- Pemerintah Perkuat Kompetensi Guru Vokasi untuk Menjawab Tuntutan Dunia Kerja
- Sebanyak 17 SNT Mulai Beroperasi, Tandai Babak Baru Pemerataan Pendidikan Bermutu
Bangun Kepercayaan Publik, Kemendikdasmen Raih Popular Government Institution Award 2026
Jakarta, 7 Agustus 2026 – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) meraih Popular Government Institution Award 2026 pada ajang 7th Indonesia Public Relations Summit (IPRS) 2026 yang diselenggarakan The Iconomics di Jakarta, Kamis (6/8). Penghargaan tersebut diberikan sebagai apresiasi atas komunikasi publik Kemendikdasmen yang dinilai aktif, adaptif, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Selepas menerima penghargaan tersebut, Mendikdasmen Abdul Mu'ti menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan 7th Indonesia Public Relations Summit yang menurutnya memiliki peran strategis dalam mendorong komunikasi yang lebih berkualitas di ruang publik dan mampu mencerminkan keadaban, empati, serta memperkuat persatuan bangsa.
Dalam pidatonya, Mendikdasmen mengatakan bahwa tantangan komunikasi publik saat ini bukan hanya menyampaikan informasi secara cepat, tetapi juga membangun pemahaman dan kepercayaan masyarakat. Di era overwhelming information, setiap orang dapat memproduksi dan menyebarkan informasi melalui berbagai platform digital. Oleh karena itu, komunikator publik harus mampu membedakan antara noise dan voice, yakni informasi yang sekadar menciptakan kegaduhan dan masukan yang benar-benar substantif bagi penyempurnaan kebijakan.
Baca Lainnya :
- Saat Medsos jadi Ruang Belajar, Kemendikdasmen dan Komisi X Dorong Gerakan Humas Muda0
- Kemendikdasmen dan Assemblr EDU Luncurkan ImajiNation 2026 untuk Perkuat Pembelajaran Koding dan AI0
- Pemerintah Percepat SNT, Mendikdasmen Tinjau Kesiapan Lahan di Jepara0
- Torehkan Prestasi, Kemendikdasmen Borong Empat Penghargaan pada Media Relations Awards SPS 20260
- Wamendikdasmen Atip Dorong Penguatan Pendidikan Berbasis Spiritualitas dan Kepedulian Lingkungan0
"Kita harus mampu membedakan antara noise dan voice. Mana yang sekadar kegaduhan untuk menarik perhatian dan mana yang benar-benar menjadi suara substantif yang dapat menjadi masukan dalam pengambilan kebijakan," jelasnya.
Mendikdasmen menambahkan bahwa maraknya misinformasi dan disinformasi menuntut komunikasi publik dibangun di atas akurasi, integritas, dan tanggung jawab. Ia juga mengingatkan bahwa komunikasi yang empatik harus menjunjung tinggi martabat setiap individu, bukan dibangun melalui eksploitasi kondisi seseorang. Budaya komunikasi yang santun merupakan bagian dari pembangunan karakter bangsa. Menurutnya, penggunaan ungkapan sederhana seperti "permisi", "maaf", dan "terima kasih" perlu terus dibiasakan, termasuk di lingkungan pendidikan.
"Bahasa menunjukkan bangsa, inilah yang coba terus kita bangun bagaimana (supaya masyarakat) mampu menggunakan bahasa-bahasa yang empatik, kemudian ekspresi-ekspresi ruang publik yang (diutamakan) menggambarkan kesantunan dan menggambarkan respek kepada orang lain. Itu harus kita bangun lebih luas," ujarnya.
Selain kemampuan menyampaikan pesan (how to deliver), Mendikdasmen juga menilai kemampuan mendengarkan secara mendalam (deep listening) merupakan bagian penting dari komunikasi empatik. Ia berharap insan komunikasi, media, dan hubungan masyarakat terus menghadirkan narasi yang mencerahkan, memperkuat keadaban publik, serta membangun ruang digital yang sehat dan saling menghormati guna memperkuat kepercayaan masyarakat dan persatuan bangsa.
"Menjadi pembicara yang baik memang penting dan banyak diajarkan, tapi bagaimana menjadi pendengar yang baik, sabar mendengarkan setiap kata, memberikan respons terhadap setiap gestur, dan kemudian mengambil makna dari yang disampaikan itu tidak selalu mudah. Termasuk kemampuan berempati selain how to deliver (yakni) bagaimana kita berbicara, (namun juga) how to listen, bagaimana mendengar (deep listening)," tuturnya.
Founder dan CEO The Iconomics, Bram S. Putro, mengatakan bahwa 7th Indonesia Public Relations Summit tahun ini mengangkat tema “Komunikasi Empati, Narasi, dan Strategi” sebagai respons terhadap tantangan komunikasi di era keterbukaan informasi. Menurutnya, empati menjadi fondasi penting dalam membangun hubungan yang bermakna antara institusi dan publik.
“Komunikasi empati bukan sekadar teknik, melainkan filosofi interaksi. Di era transparansi yang semakin terbuka, empati menjadi modal utama untuk membangun kepercayaan publik, mengelola krisis, dan menciptakan hubungan yang bermakna. Karena itu, komunikasi harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar narasi,” ujar Bram.*** (Penulis: Destya/Fotografer: Rayhan/Editor: Ririn). Sumber berita https://www.kemendikdasmen.go.id/
