- PIP, ADEM, dan Peningkatan Kesejahteraan Guru, Dukung Akses Pendidikan Merata
- Revitalisasi Sekolah 2026 Prioritaskan yang Rusak Berat, 3T, dan Terdampak Bencana
- Kolaborasi Revitalisasi Bahasa Daerah, Jaring Praktik Baik Bersama Pemda, Guru, dan Pemuda
- Kontribusi Pendidikan Vokasi di Balik Makan Bergizi Gratis
- Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan sebagai Upaya Peningkatan Literasi
- Hadiri Peresmian SPPG, Mendikdasmen: MBG Merupakan Investasi Jangka Panjang
- Kemendikdasmen Tetapkan Permendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Kearsipan
- Pemanfaatan PIP di Daerah, Perkuat Pemerataan Akses dan Dukung Wajib Belajar 13 Tahun
- Praktik Baik SPMB Jawa Tengah Jadi Sorotan di Konsolnas 2026: “No Titip, No Jastip”
- Sinergi Ditjen Pendidikan Vokasi PKPLK dan KRIVET untuk SMK Lebih Relevan di Era Digital
Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan sebagai Upaya Peningkatan Literasi
Jakarta, Kemendikdasmen - Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), menggelar pertemuan koordinasi lintas unit guna meningkatkan literasi dengan upaya pemberdayaan perempuan melalui pendidikan di Gedung A, Kemendikdasmen, Senayan, Jakarta beberapa waktu lalu. Pertemuan ini bertujuan untuk mentransformasi peringatan Hari Kartini setiap 21 April agar tidak sekadar menjadi perayaan seremonial, melainkan memiliki substansi edukasi yang mendalam.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1993-1998, Wardiman Djojonegoro, hadir sebagai narasumber, menekankan pentingnya pendidikan sebagai kunci utama pemberdayaan perempuan. Beliau menyoroti bahwa indeks kesetaraan gender di Indonesia masih tertinggal dibandingkan standar internasional.
"Kuncinya adalah apa yang ditulis oleh Kartini 140 tahun lalu, yaitu pendidikan. Seseorang yang tidak berpendidikan, maka dia tidak bisa jadi manajer, tidak bisa jadi direktur utama, dan bidang lainnya. Oleh karena itu, saya mengusulkan pemberdayaan perempuan melalui pendidikan, bukan lagi sekadar kesetaraan gender yang disalahpahami sebagai upaya menggantikan laki-laki," tegas Wardiman Djojonegoro.
Baca Lainnya :
- Hadiri Peresmian SPPG, Mendikdasmen: MBG Merupakan Investasi Jangka Panjang0
- Kemendikdasmen Tetapkan Permendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Kearsipan0
- Pemanfaatan PIP di Daerah, Perkuat Pemerataan Akses dan Dukung Wajib Belajar 13 Tahun0
- Praktik Baik SPMB Jawa Tengah Jadi Sorotan di Konsolnas 2026: “No Titip, No Jastip”0
- Sinergi Ditjen Pendidikan Vokasi PKPLK dan KRIVET untuk SMK Lebih Relevan di Era Digital0
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, menyampaikan bahwa kolaborasi lintas unit kerja ini sebagai bentuk kolaborasi dan sinergi satuan kerja di lingkungan Kemendikdasmen.
"Pertemuan koordinasi ini tentu sebagai upaya agar kegiatan pemberdayaan perempuan melalui sektor pendidikan ini dapat kita lakukan secara terpadu sehingga tidak sekadar seremonial peringatan Hari Kartini semata, namun ada substansi yang dapat kita lakukan melalui berbagai program," ujar Hafidz.
Kepala Pusat Penguatan Karakter (Puspeka), Ruspita, menyoroti tantangan budaya patriarki yang masih kuat di dunia kerja formal meskipun prestasi akademik murid perempuan sering kali lebih unggul.
"Secara kualitas hasil pembelajaran, anak perempuan saat ini lebih tinggi. Namun, begitu masuk ke lapangan pekerjaan formal, didominasi anak laki-laki karena budaya patriarki. Kami akan mengadakan aktivasi seperti 'Aku Bisa Jadi Apa Saja' agar anak-anak berani bercerita tentang cita-citanya," jelas Ruspita.
Sementara itu, Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Maria Veronica Irene Herdjiono, fokus pada penguatan talenta perempuan di bidang sains, teknologi, dan matematik (STEM). "Di sekolah, juara kelas biasanya perempuan karena rajin, tetapi saat kompetisi sains tingkat tinggi seperti OSN, laki-laki masih mendominasi. Kami berencana membuat gerakan melalui siniar untuk menginspirasi siswa perempuan agar lebih berani menggeluti bidang sains," kata Maria Irene.
Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Imam Budi Utomo, menyatakan pihaknya siap untuk mendukung program pemberdayaan perempuan melalui pendekatan literasi. "Kami akan menyiapkan bahan literasi dengan tema pemberdayaan perempuan. Selain itu, kami bisa menggelar kegiatan terkait surat-surat Kartini dengan melibatkan para generasi muda," tambah Imam.
Sekretaris Badan Bahasa, Ganjar Harimansyah, menambahkan bahwa seluruh unit pelaksana teknis di daerah juga akan digerakkan untuk memaknai momen ini. "Kami akan mengorkestrasikan berbagai kegiatan di pusat dan daerah melalui UPT agar selama bulan April bergerak bersama memaknai pemberdayaan perempuan melalui media massa dan berbagai perlombaan yang substansial," tutur Ganjar.
Dukungan dan upaya lain juga dilakukan melalui pembuatan video inspiratif tokoh perempuan masa kini, pendekatan yang dapat mengubah persepsi anak-anak tentang Kartini yang tidak hanya soal kebaya, serta aktivitas pendidikan masyarakat melalui kegiatan bedah buku yang bertemakan pemberdayaan perempuan.
Melalui sinergi antarunit ini, diharapkan melalui ruang pendidikan pesan tentang hak perempuan untuk ikut serta membangun bangsa dapat tersampaikan dengan kuat kepada generasi muda melalui bekal pendidikan yang memadai. (Penulis: Arif M./Meryna A. || Editor: Denty A.). Sumber berita https://kemendikdasmen.go.id/
